News

terkaya

Jejak Misterius Kerajaan Pandya di Nusantara: Dari Penyebaran Islam Sampai Berdirinya Kesultanan Nusantara

Titulo

Jakarta, Indonesia - Sebuah hipotesis menarik muncul dari kajian sejarah mengenai kemungkinan adanya jejak pengaruh Kerajaan Pandya, yang pernah berjaya di India Selatan, terhadap perkembangan budaya dan penamaan di beberapa wilayah Indonesia, khususnya Aceh dan Sumatera Utara. Meskipun belum menjadi kesimpulan yang mapan, potensi keterkaitan ini membuka wawasan baru tentang kompleksitas interaksi maritim dan budaya di masa lampau.

Kerajaan Pandya, yang mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-13 hingga ke-14 Masehi, dikenal memiliki hubungan dagang dan diplomatik yang luas, termasuk dengan wilayah Asia Tenggara. Catatan sejarah menunjukkan adanya interaksi yang signifikan antara pedagang Arab Muslim dengan istana Pandya, bahkan beberapa di antara mereka berhasil menduduki posisi penting dalam pemerintahan kerajaan.

Salah satu tokoh kunci dalam interaksi ini adalah Malikul Islam Jamaluddin, seorang amir dari Qis yang kemudian menjadi kepala kaum saudagar dan importir kuda untuk istana Pandya. Karena pengabdiannya yang tulus, Raja Pandya memberikan Jamaluddin kekuasaan atas Kayalpattinam. Kepercayaan raja terhadap Jamaluddin semakin besar hingga ia diangkat menjadi duta Kerajaan Pandya untuk Cina, di mana hubungan diplomatik telah terjalin sejak tahun 1280 M.

Kesuksesan Jamaluddin dalam menjalankan tugasnya sebagai duta besar membawa dampak positif bagi Kerajaan Pandya. Ia kemudian diangkat menjadi panglima perang dan berhasil menaklukkan Ceylon (Sri Lanka), membawa kemenangan dan mengibarkan bendera Pandya di pulau tersebut.


Adik Jamaluddin, Syaikh Taqiyuddin ‘Abdurrahman, juga memiliki peran penting di istana Pandya. Ia menjadi menteri, penasihat, dan sahabat Raja Sundara Pandiyan. Bahkan, ia menikahi seorang putri dari keluarga istana Pandya dan diberikan kekuasaan atas pelabuhan-pelabuhan penting seperti Kilakarai. Setelah Raja Maravarman Kulasekhara Pandiyan I naik takhta, Taqiyuddin diangkat menjadi perdana menteri. Keturunannya pun kemudian melanjutkan posisi penting dalam pemerintahan Pandya.

Keberhasilan orang-orang Arab Muslim dalam menduduki jabatan-jabatan strategis di istana Pandya menunjukkan adanya integrasi yang kuat antara budaya dan masyarakat dari kedua wilayah. S. Krisnaswami Aiyangar, seorang sejarawan, berpendapat bahwa keluarga Jamaluddin bukanlah satu-satunya yang memiliki posisi penting di istana Pandya. Ia meyakini bahwa terdapat banyak pemukiman Muslim dengan karakter Arab di berbagai pelabuhan perdagangan penting di pantai India Selatan dan Malabar, yang kemudian menjadi inti dari komunitas campuran keturunan Arab.


Dari konteks inilah, muncul spekulasi menarik mengenai kemungkinan adanya pengaruh Pandya terhadap penamaan geografis dan marga di Indonesia. Salah satu hipotesis yang diajukan adalah mengenai perubahan kata "Pandya" menjadi "Pande" atau "Gampong Pande" di Aceh. Gampong Pande adalah sebuah wilayah di Banda Aceh yang memiliki sejarah panjang sebagai pusat perdagangan dan permukiman awal Islam di Aceh.
Hipotesis ini didasarkan pada kemungkinan adanya migrasi atau interaksi antara pedagang atau utusan dari Kerajaan Pandya dengan wilayah Aceh pada masa lalu. Perubahan fonetik dari "Pandya" menjadi "Pande" dianggap sebagai hal yang mungkin dalam proses adaptasi bahasa. Jika hipotesis ini benar, maka nama Gampong Pande bisa jadi merupakan jejak peninggalan interaksi antara Aceh dan India Selatan di masa lampau.
Selain di Aceh, potensi pengaruh Pandya juga dikaitkan dengan marga Pandia di kalangan masyarakat Karo di Sumatera Utara, serta marga Pandiangan di kalangan masyarakat Batak Toba. Marga adalah identitas penting dalam struktur sosial kedua kelompok etnis ini.

Marga Pandia pada masyarakat Karo memiliki posisi yang cukup sentral dalam sistem kekerabatan mereka. Beberapa tokoh sejarah Karo juga memiliki marga Pandia. Jika terdapat hubungan dengan Kerajaan Pandya, hal ini bisa mengindikasikan adanya migrasi atau pengaruh budaya dari India Selatan ke wilayah Karo pada masa lampau.

Demikian pula dengan marga Pandiangan pada masyarakat Batak Toba. Marga ini termasuk dalam kelompok marga di tarombo Batak dan menaungi beberapa marga besar khususnya di Samosir, Sumatera Utara. Jika ada kaitan dengan Pandya, ini akan membuka babak baru dalam pemahaman tentang asal-usul dan migrasi masyarakat Batak.

Bukti pengaruh Kerajaan Pandya, India di Tambo Minangkabau, Sumatera Barat. Lihat di sini sumbernya


Tentu saja, hipotesis ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut dan bukti-bukti yang lebih kuat untuk dapat diterima secara luas. Arkeologi, linguistik, dan studi genetik dapat memainkan peran penting dalam mengungkap potensi hubungan antara Kerajaan Pandya dan wilayah-wilayah di Indonesia.

Jika memang terbukti adanya pengaruh Pandya di Aceh dan Sumatera Utara, hal ini akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pemahaman kita tentang jaringan perdagangan dan interaksi budaya maritim di Samudra Hindia pada masa lalu. Ini juga akan memperkaya khazanah sejarah Indonesia dan menunjukkan betapa luasnya jangkauan pengaruh peradaban kuno.


Penting untuk diingat bahwa perubahan nama dan pembentukan marga adalah proses yang kompleks dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Namun, potensi keterkaitan dengan Kerajaan Pandya adalah sebuah jalur penelitian yang menarik dan patut untuk dieksplorasi lebih dalam.

Penelitian lebih lanjut dapat dilakukan dengan menganalisis catatan-catatan sejarah lokal, membandingkan artefak arkeologi, mempelajari etimologi nama-nama tempat dan marga, serta melakukan analisis genetik terhadap populasi terkait.
Jika terbukti, pengaruh Kerajaan Pandya di Indonesia tidak hanya terbatas pada penamaan, tetapi juga mungkin mencakup aspek-aspek lain seperti seni, arsitektur, dan sistem sosial. Hal ini akan membuka babak baru dalam pemahaman tentang sejarah maritim Indonesia dan koneksinya dengan dunia luar.

Meskipun masih berupa hipotesis, potensi pengaruh Kerajaan Pandya di Aceh dan Sumatera Utara adalah pengingat bahwa sejarah Indonesia sangat kaya dan terhubung dengan berbagai peradaban lain di dunia. Penelusuran lebih lanjut mengenai hal ini dapat memberikan wawasan baru yang berharga tentang masa lalu bangsa Indonesia.

Powered by Blogger.