News

terkaya

Titulo

Republikorp Tancap Gas di Industri Alutsista


Jakarta – Industri pertahanan Indonesia memasuki babak baru dengan munculnya Republikorp sebagai pemain strategis yang menyaingi BUMN Defend ID di bawah Danantara. Perusahaan swasta nasional ini semakin menegaskan posisinya di sektor alutsista dengan proyek-proyek ambisius dan kemitraan internasional.

Langkah Republikorp terlihat semakin serius setelah menjajaki kerja sama dengan Bayraktar Turki, produsen drone dan sistem tempur canggih asal Ankara. Hubungan ini membuka peluang transfer teknologi dan potensi produksi lokal di Indonesia, memperkuat ekosistem pertahanan dalam negeri.

Pertanyaan pun muncul mengenai status Republikorp sebagai subkontraktor bagi produk dari Uni Emirat Arab dan Turki, mirip model yang dijalankan Israel dengan memproduksi drone dan senjata di India, Inggris, dan negara lainnya.

Ambisi Republikorp tidak berhenti pada sistem drone. Perusahaan ini tengah merancang kapal induk drone dengan bobot 13 ribu ton, yang secara langsung menantang desain PT PAL yang mencapai 50 ribu ton. Inisiatif ini menjadi simbol keinginan Republikorp untuk menciptakan solusi pertahanan domestik yang berkelas dunia.

EDGE, perusahaan pertahanan asal Uni Emirat Arab, resmi menandatangani kerja sama strategis dengan Republikorp dalam ajang Dubai Airshow 2025. Kesepakatan ini menegaskan komitmen kedua pihak dalam pengembangan alutsista modern untuk Indonesia.
Penandatanganan dilakukan oleh Hamad Al Marar, CEO EDGE, dan Norman Joesoef, Founder Republikorp. Perjanjian ini mencakup transfer teknologi, produksi lokal, serta pengembangan sistem pertahanan secara bersama-sama.

Nilai total kerja sama mencapai USD 7 miliar, menjadikannya program internasional terbesar EDGE yang difasilitasi oleh Uni Emirat Arab untuk modernisasi industri pertahanan Indonesia. Angka ini mencerminkan skala ambisi yang jauh melampaui proyek alutsista sebelumnya.

Ruang lingkup kerja sama meliputi sistem rudal pertahanan udara SKYKNIGHT, kendaraan tempur infanteri RABDAN 8x8 generasi terbaru, kapal patroli cepat, hingga fasilitas produksi amunisi kaliber kecil. Semua komponen ini menjadi fondasi kemandirian pertahanan nasional.

Hamad Al Marar menyatakan, kolaborasi ini adalah pencapaian penting dalam ekspansi global EDGE. Ia menekankan bahwa kerja sama ini membangun ekosistem pertahanan modern, mandiri, dan berkelanjutan.
“Lewat kemitraan dengan Republikorp, kami berkontribusi memperkuat keamanan nasional sekaligus kapasitas industri dalam negeri,” kata Al Marar. Ia menambahkan bahwa transfer teknologi dan pengembangan sistem terintegrasi menjadi fokus utama proyek ini.

Norman Joesoef menekankan bahwa inisiatif USD 7 miliar ini merupakan langkah besar menuju kemandirian sistem pertahanan Indonesia. Ia menegaskan bahwa kemitraan ini bukan sekadar investasi alat, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia.

“Visi kami adalah membangun kapabilitas lokal melalui inovasi dan transfer teknologi. Bersama EDGE, kami mencetak tenaga ahli yang menjadi fondasi industri pertahanan nasional berkelanjutan,” ungkap Joesoef.

Selain proyek kapal induk drone, Republikorp juga menjajaki pengembangan kendaraan tempur otonom dan sistem sensor pertahanan canggih yang bisa diintegrasikan dengan jaringan komando TNI.

Beberapa analis menilai langkah Republikorp mirip strategi Israel, yang menempatkan perusahaan swasta sebagai subkontraktor sekaligus produsen global. Pola ini memungkinkan Indonesia mendapatkan teknologi tinggi tanpa harus bergantung penuh pada impor.

Kerja sama dengan EDGE juga membuka akses bagi Republikorp ke pasar internasional. Produk yang dikembangkan bersama bisa diekspor ke negara-negara mitra, sekaligus meningkatkan reputasi Indonesia di industri pertahanan global.

Proyek kapal induk drone 13 ribu ton dipandang sebagai jawaban terhadap tantangan modernisasi TNI AL, sekaligus simbol kemampuan desain lokal yang bisa menyaingi PT PAL.

Dengan fokus pada produksi lokal dan pengembangan SDM, Republikorp diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia pada teknologi asing dan membangun ekosistem alutsista yang mandiri.

Paket USD 7 miliar ini juga mencakup modernisasi sistem komando, kontrol, komunikasi, dan intelijen TNI, sehingga integrasi platform baru bisa berjalan lancar.

Beberapa pengamat menyoroti bahwa model kemitraan Republikorp-EDGE bisa menjadi blueprint bagi industri pertahanan nasional, memadukan investasi swasta, teknologi asing, dan pengembangan sumber daya manusia.

Di tengah persaingan dengan Defend ID, Republikorp berhasil menempatkan diri sebagai alternatif nyata bagi pemerintah, dengan keunggulan dalam fleksibilitas proyek, transfer teknologi, dan jaringan internasional.

Langkah Republikorp menandai era baru industri pertahanan Indonesia, di mana perusahaan swasta bisa menjadi motor penggerak modernisasi alutsista nasional, sekaligus membuka peluang ekspor global bagi produk-produk unggulan dalam negeri.

Powered by Blogger.